Jumat, 07 Oktober 2011

Life Is What You Make IT

Tidak seorang pun meminta dilahirkan. Tidak seorang pun bisa memilih orangtuanya atau menentukan kondisi-kondisi yang terkait dengan kelahirannya.
Orang-orang yang lahir dari orangtua yang baik di tengah lingkungan yang menguntungkan tidak layak memperoleh pujian karena situasi tersebut. Sebaliknya, orang-orang yang dilahirkan dari orangtua yang buruk dan ditengah kemiskinan juga tidak layak untuk disalahkan. Bagaimana mereka bisa disalahkan? Saat lotere kelahiran kita sedang dimainkan; kita bahkan belum ada!
Jika demikian, sudah jelas, bahwa di awal kehidupan kita, tidak ada seorang pun yang layak atas apa pun. Tidak ada seorang pun yang layak untuk kaya atau miskin, dimuliakan atau direndahkan, sehat atau sakit. Semua itu terjadi secara acak terhadap kehidupan yang baru saja dimulai. Semua itu bukan adil atau tidak adil; semua hanya seperti itu.Kenyataannya adalah, di awal kehidupan, keacakan berkuasa. Menerima ini, menurut saya, adalah awal dari kerendahan hati, dan juga titik awal untuk sebuah pendekatan yang realistis dalam memanfaatkan sebuah kehidupan yang diberikan kepada kita masing-masing secara maksimal.
 Ini membawa saya kepada pengamatan lain tentang gagasan-gagasan salah yang dimiliki sejumlah orang tentang arti sesungguhnya dari etos kerja yang baik. Sejumlah orang mengira mereka sedang berbicara tentang etos kerja, ketika mereka sebenarnya sedang berbicara tentang etos kekayaan. Mereka mengaku menjunjung tinggi kerja keras, disiplin, dan keteguhan, tapi bukan kualitas-kualitas tersebut yang sebenarnya mereka hormati; yang mereka hormati adalah kekayaan; kualitas-kualitas tadi kadang-kadang menuntun mereka ke arah itu. Mereka lebih menghormati imbalannya ketimbang prosesnya.
Ada beberapa argumen moral dan filosofis yang bisa dibuat untuk menentang penyimpangan nilai-nilai tersebut. Namun, saya hanya ingin memberikan keberatan yang murni berdasarkan pengalaman: Masalah yang bisa terjadi jika kita lebih menghormati imbalan pekerjaan ketimbang pekerjaan itu sendiri adalah, imbalan tersebut selalu bisa dirampas.
Semua orang yang pernah hidup di dalam era keterpurukan ekonomi sangat menyadari hal ini. Apakah seseorang disebut sukses hari ini, dan gagal keesokan harinya, hanya karena perusahaannya bangkrut, yang terjadi bukan karena kesalahannya? Apakah seorang pengusaha muda mendadak menjadi pecundang karena berubahnya kondisi pasar di seluruh dunia?
Mengapa orang mempertaruhkan penghargaan-diri mereka pada faktor-faktor yang sama sekali berada di luar kendali mereka?
Sebuah etos kerja yang masuk akal dan jangka-panjang selalu menekankan bukan pada imbalan yang sepele, tapi pada pekerjaan itu sendiri, pada hasrat, keterfokusan, dan keseriusan untuk meraih tujuan saat menyelesaikan pekerjaan tersebut.
( Peter Buffett)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar